Thursday, July 3, 2014

Sejarah Peradaban Islam di Rusia

Islam masuk ke Rusia pada pada tahun 992 Masehi, ketika sekelompok etnis Rusia yang hidup di Siberia, yang disebut Bulgar memeluk agama islam dan kemudian menyebarkannya ke seluruh Rusia. Ada beberapa republik dalam Federasi Rusia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti Tatarstan, Chechnya, Bashkortostan, Dagestan, Ingushetia, Kabardino-Balkaria, Karachay-Cherkessia, dan lain-lain. Muslim pertama di wilayah Rusia terkini adalah masyarakat Dagestani di (kawasan Derbent) selepas penaklukan Arab (abad ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar mewarisi agama Islam dari negeri itu. Kemudian kebanyakan orang Turki Eropa dan Kaukasia juga memeluk agama Islam.

Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan, terutama di Dagestan dan Chechnya, ada tradisi Sufisme, yang diwakili oleh tarekat Naqsyabandi dan Shazili dipimpin oleh Shaykh Said Afandi al-Chirkawi ad-Daghestani. Amalan sufi memberikan orang Kaukasus semangat kuat untuk menolak tekanan orang asing, dan telah menjadi legenda di antara pasukan Rusia yang melawan orang Kaukasus pada zaman Tsar. Orang Azeri juga pada sejarah dan masih lagi pengikut Islam Syiah, disaat republik mereka terpisah dari Uni Soviet, banyak orang Azeri yang datang ke Rusia untuk mencari pekerjaan.

Kaum Muslimin Rusia terbagi dalam 14 wilayah administratif, terletak di dua wilayah geografis politis Rusia yang sangat rawan konflik. Enam republik dan satu wilayah administratif berada di Rusia tengah, berbatasan dengan Kazakhstan; dan tujuh republik lain di Kaukasus Utara berbatasan dengan Georgia, Azerbaijan, Armenia, Turki dan Iran.

Sekurang-kurangnya 15-20 persen dari jumlah penduduk negara Rusia memeluk islam dan membentukkan agama minoritas yang terbesar. Masyarakat besar Islam dikonsentrasikan di antara warga negara minoritas yang tinggal di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Avar, Adyghe, Balkar, Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush, Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan warga negara Dagestan. Di Volga Basin tengah ada penduduk besar Tatar dan Bashkir, kebanyakan mereka Muslim. Banyak Muslim juga tinggal di Perm Krai dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod, Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast (kebanyakannya kaum Tatar).

Qur'an pertama yang dicetak diterbitkan di Kazan, Rusia pada 1801. Satu lagi fenomena yang terjadi adalah gerakan Wäisi.

Pada era 1990-an, jumlah percetakan risalah Islam telah meningkat. Antaranya ialah beberapa buah majalah dalam bahasa Rusia, "Ислам" (transliteration: Islam), "Эхо Кавказа" (Ekho Kavkaza) dan "Исламский вестник" (Islamsky Vestnik), dan beberapa surat khabar berbahasa Rusia seperti "Ассалам" (Assalam), dan "Нуруль Ислам" (Nurul Islam), yang diterbit di Makhachkala, Dagestan.

Muslim Rusia

Warga muslim Rusia adalah bagian dari Muslim Soviet Rusia, terdiri dari kelompok yang heterogen, mereka sama sekali berbeda dalam etnis, bahasa dan budaya bahkan mereka berbeda dalam interaksinya dengan Islam. Dan etnis yang beragam ini kemudian disertai dengan keanekaragaman bahasa, dan masing-masing bahasa memiliki dialek yang banyak. Bahasa Arab diajarkan di sekolah Dasar dan madrasah-madrasah, tujuan utamanya adalah untuk membaca Al-Qur’an dan memahami artinya. Mereka tidak bisa menulis dan berbicara bahasa Arab, kecuali orang-orang yang telah mendapatkan pendidikan tinggi.

Kemudian secara luas, umat Islam di Uni Soviet terkonsentrasi walaupun tidak menyeluruh di Asia Tengah, yaitu di daerah yang dibatasi oleh Laut Kaspia di barat, Cina di timur, Turki, Iran dan Afganistan di selatan. Masing-masing bersebelahan dengan Pakistan dan India, akan tetapi ini bukan fakta, karena lebih dari separuh Muslim di Uni Soviet sudah tinggal di daerah Asia Tengah. Sisanya menyebar di seluruh wilayah Uni Soviet, terutama di Rusia. Di Rusia, ada lima republik otonom Muslim yang mayoritas penduduknya beragama Islam, yaitu Republik Tatarstan, Republik Dagestan, Republik Bashkiria (Bashkortostan), Republik Kabardino-Balkaria dan Republik Chechnya, ditambah umat Islam yang ada di republik lain dengan penduduk mayoritas Kristen, seperti Republik Ossetia Utara, Republik Mari El, Republik Udmurtia, juga di republik lain dimana umat Islam menjadi warga negaranya atau membentuk komunitas Islam.

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Rusia

Seperti penyebaran Islam lainnya penyebarannya melalui jalur perdagangan, Begitu pula di Rusia Islam masuk dibawa para pedagang Muslim Arab dari wilayah Kaukasus dan tiba di Moskow dari utara bukan dari selatan seperti yang diduga beberapa sejarawan, mereka berpendapat bahwa Islam datang ke Moskow dari selatan, sebagai jalan paling mudah untuk gerakan kafilah pedagang. Sebab, suku-suku Cossack Rusia yang telatih untuk berperang, telah berdiri menentang penyebaran Dakwah Islam dan pengaruh Islam yang merayap menuju jantung Rusia.

Hal itu kemudian memaksa para pedagang Muslim dan para da’i untuk melintasi stepa Asia Tengah menuju Siberia, dengan bantuan kaum Tatar yang telah masuk Islam dan mendapat petunjuk kepada agama yang haq sejak abad kesembilan Masehi di Kerajaan mereka, Kerajaan Volga Bulgaria Timur, yang sekarang menjadi tanah air mereka. Daerah ini sebagian besar telah memeluk Islam pada abad kesepuluh, dan pada abad 11 dan 12, Islam menyebar di wilayah Ural, yang sekarang bernama Republik Bashkiria (Bashkortostan). Berkat para pedagang Muslim dari Arab, Iran dan Turki Islam kemudian menyebar ke berbagai bagian lain wilayah Rusia.Kaum Muslim saat ini, telah menjadi kekuatan baru di sekitar Rusia, dari Siberia di sebelah utara dan timur laut ke arah selatan.

Kehadiran islam di Moskow sekitar tahun 1200 Masehi, ketika itu, ibukota kerajaan Muslim ada di kota Kazan. Saat itu, Moskow membayar pajak kepada Kazan. Kazan tetap menjadi ibukota kaum muslimin sampai tahun 1552, ketika Tsar Rusia Ivan The Terrible berhasil menduduki dan menghancurkan Kazan, membakar masjid, memindahkan qubah-qubah indah ke Kremlin Moskow dan Red Square, yang masih ada sampai hari ini. Kemudian ia menduduki kota Astrakhan pada tahun 1556, Siberia Barat tahun 1598, dan pada akhir abad keenam belas tiba di daerah-daerah Muslim di Kabordino dan Chechnya. Sejak saat itu, Rusia memulai peperangan mereka melawan kaum muslimin, mereka melarang kaum muslimin melakukan praktek keagamaan dan memaksa mereka untuk mengikuti kebiasaan dan tradisi Rusia. Semua itu dilakukan dalam rangka me-rusia-kan kaum muslimin, jika tidak dikatakan: mengkristenkan mereka. Mereka memperlakukan kaum muslimin dengan kejam, menimpakan berbagai siksaan, merampas kekayaan mereka dan memperkenalkan undang-undang hukuman untuk memaksa penduduk setempat agar menolak agama Islam. Akan tetapi, mereka tidak berhasil dalam proyek ini.

Mayoritas Muslim tetap mengikuti agama mereka, kekejaman Rusia tidak mampu menghentikan penyebaran Islam. Dan sungguh sebuah paradoks yang aneh, sebaliknya Islam mencapai kemajuan baru di paruh kedua abad 18, pada masa pemerintahan Ratu Rusia, Catherine II, dengan berubahnya kebijakan Rusia terhadap umat Islam yang hidup dalam perbatasannya. Saat itu, kaum muslimin mencicipi kebebasan. Pada tahun 1764, propaganda toleransi beragama menguat, dan pada tahun 1767 pengusiran penduduk Tatar dari kota mereka, yaitu Kazan, dicabut pemerintah. Pemerintahan menuju tahap baru pada tahun 1773 dengan memberikan Tatar Volga kebebasan beragama, hak untuk membangun masjid dan sekolah Al-Quran. Pedagang Volga kemudian menjadi mediator yang sangat baik antara Tsar Rusia dan Asia Tengah. Mereka juga bertindak sebagai da’i dan muballigh, membangun masjid, sekolah dan membawa Islam kepada orang-orang yang masih semi-politheis di Bashkiria dan Siberia Barat.

Kebijakan Tsar Rusia ini bukan didasari karena kecintaan terhadap umat Islam, tetapi kebijakan yang didorong kepentingan Rusia untuk memperluas pengaruh dan kontrol atas daerah tetangga, karena ia menyadari kemungkinan untuk memanfaatkan masyarakat Muslim yang berada di Rusia, sehingga kehadiran Rusia di Asia Tengah dapat diterima bahkan diinginkan di wilayah itu. Hal itulah yang mendorong para penguasa Rusia untuk memperhatikan kekuatan politik umat Islam yang tinggal di Tsar Rusia pada saat itu, pemerintah mulai mencoba untuk mendapatkan dukungan mereka, didirikanlah lembaga sebagai pusat Fatwa di Renburg (kemudian pindah ke Ufa) pada 1788. Setelah itu, dibentuk tiga lembaga lain untuk Penerbitan Fatwa dalam abad berikutnya, satu lembaga pada 1831, dan dua lainnya pada tahun 1872. Lembaga-lembaga ini sejenis hai’ah ulama (institusi ulama), yang ada di pemerintahan Utsmani. Lembaga ini memiliki wewenang dalam beberapa aspek hukum perdata, bertanggung jawab atas kaderisasi ulama, pemeliharaan Wakaf dan publikasi buku-buku keagamaan yang tidak dibolehkan terbit sebelum tahun 1800.

Perkembangan Islam di Bawah Kekuasaan Komunis

Ketika Perang Dunia Pertama pecah, kaum Muslimin berhasil menduduki posisi yang terhormat di kekaisaran Rusia, atas apa yang telah mereka persembahkan dalam perang untuk kepentingan negara mereka. Akan tetapi, kondisi ini segera berubah setelah komunis mengkudeta pemerintahan. Kondisi umat Islam sangat berbeda dengan kondisi pada akhir era Kekaisaran Rusia. Para penguasa Komunis Soviet berbeda sikap, karena tujuan utama komunis adalah untuk memberantas agama dalam segala bentuknya, yang dianggap sebagai “candu masyarakat”, menurut istilah salah seorang pemimpin mereka.

Dimulailah serangkaian panjang penindasan agama, penerapan langkah-langkah memusuhi Islam, dan dapat dikatakan bahwa selama era Soviet, Islam telah menelan berbagai bentuk permusuhan Komunis terhadap agama secara umum; masjid berubah menjadi toko-toko, kafe, kursus tari dan bioskop, padahal pada tahun 1912, di Rusia saja, kaum muslimin memiliki lebih dari 26.000 masjid, dan pada tahun 1941 tidak ada masjid yang tersisa kecuali sekitar 1.000 saja, pengadilan syariah sepenuhnya ditutup pada tahun 1927 dan sistem wakaf dihapus pada tahun 1930. Sementara tulisan Arab dihapus pada tahun yang sama, sekolah agama ditutup, institusi ulama dibubarkan dan banyak dari mereka yang kemudian dieksekusi. Kaum muslimin tidak diperbolehkan untuk melakukan haji, sistem pemeliharaan babi secara kolektif mulai diberlakukan di tanah-tanah kaum muslimin, publikasi literatur agama dicekal, ibadah puasa menjadi hal yang hampir mustahil, upacara keagamaan dan peringatan peristiwa bersejarah dalam Islam dilarang dalam bentuk apapun.

Partai Komunis di Rusia melihat Islam sebagai kekuatan yang bersebrangan, agama dan iman adalah hambatan menuju komunisme, dan dia harus cepat-cepat bekerja untuk menghancurkan dengan propaganda dan informasi yang bersebrangan, bahkan, jika diperlukan, bisa juga menggunakan jalur administrasi dan kepolisian. Dengan cara itulah para pemimpin Bolshevik melihat Islam sejak awal masa kekuasaannya, sebuah posisi yang disokong oleh Lenin, seorang musuh abadi bagi agama. Serangan Komunis terhadap agama Islam membentang sejak tahun 1928 sampai deklarasi Perang Dunia II. Serangan fisik ini diiringi dengan berbagai propaganda yang sangat anti Islam, bahkan kemudian terkoordinasikan sehingga mencapai dampak maksimal, digawangi oleh aktivis serikat pekerja anti Tuhan “Sans-Dieu”, yang didirikan pada tahun 1925, serta berbagai media dan organisasi negara serta lembaga pemerintah komunis.

Perlu juga untuk disebutkan di sini beberapa kutipan dari Ensiklopedia Mini Soviet dalam Volume IV halaman 879-880, pada subjek “Islam”, yang menjelaskan posisi resmi pemerintah Rusia terhadap agama Islam, seperti: “Islam pada masa kekaisaran Rusia Tsar memiliki kedudukan yang tinggi dan dipergunakan sebagai alat oleh kaum kapitalis. Setelah Revolusi Oktober, Islam kemudian memegang bendera anti-revolusioner. Dan sebagai efek dari pembangunan sosialisme dan pertumbuhan ateisme, bangsa ini harus dibebaskan dari penindasan Islam yang telah mengkronis, yang menjadi ideologi orang kaya dan musuh revolusi.”

Dalam ensiklopedia utama Soviet “Ensiklopedia Bolshevik” edisi kedua Volume XVIII halaman 516-519, pada subjek “Islam”, “Islam, seperti semua agama lainnya, selalu memainkan peran oposisi, karena merupakan alat penganiayaan secara spiritual kelas pekerja lokal, dieksploitasi oleh para penjajah asing dari masyarakat Timur Tengah.

Musuh-musuh internal revolusi dan kaum imperialis asing menggunakan Islam untuk memerangi negara Rusia Soviet setelah kemenangan komunis pada Revolusi Oktober, sepanjang perang saudara dan intervensi asing… Demikian pula pihak-pihak lain mencoba mendapatkan keuntungan dari Islam. karena itu, sosialisme terus berupaya memeranginya sepanjang era konstruksi di Rusia. Saat itu, ulama Muslim memimpin perjuangan kelas melawan legislasi Soviet dalam bidang keluarga, pernikahan, dan memperjuangkan pembebasan perempuan dan membela hak mengenakan jilbab.

Selain itu, mereka menggunakan semua propaganda media terhadap agama Islam, yang disirkan melalui radio dan film anti agama, termasuk banyak film yang mengejek Muslim di Rusia, membuat olok-olok agama mereka dan menunjukkan bahwa Islam adalah penyebab kebekuan pikiran, keterbelakangan dan penderitaan. Film itu juga memperlihatkan berbagai ritual secara histeris, sehingga menjadi bahan tertawaan dan ejekan yang parah, seperti tata cara wudhu, shalat, haji dan lain-lain.

Umat Islam terus menanggung semua penidasan mulai dari terorisme, pengintaian dan pelecehan, sampai pada Perang Dunia II, dimana terjalin kesepakatan antara pemerintah Rusia dan institusi Islam, keadaan ini terus berlanjut selama era Stalinis pasca perang. Pada bulan Juli 1942, Mufti Rusia dan Eropa, Abdul Rahman Rasulaev, menjalin hubungan dengan Stalin, menguatkan kesepakatan dan berjanji bahwa Muslim akan mendukung upaya perang dan itulah yang terjadi. Dengan demikian, berhentilah propaganda anti-Islam secara relatif, demikian pula penderitaan dan teror sedikit mereda, Negara dengan Islam berhubungan secara resmi melalui bimbingan negara, terutama setelah pembentukan banyak lembaga Islam. Situasi ini terus berlanjut sampai kematian Stalin, dan ini adalah periode yang melegakan bagi kaum muslim Rusia.
Kemudian pada era Khrushchev, prinsip “back to Lenin” mengakhiri era rekonsiliasi. Ia meluncurkan propaganda baru melawan Islam, yang berlangsung dari tahun 1954 sampai tahun 1964. Pada masa itu, sebagian besar masjid yang tadinya terbuka untuk ibadah dan tempat-tempat ziarah dan kunjungan ditutup. Ia juga meluncurkan siaran pers, radio, televisi dan bioskop dan kampanye yang sangat intens menyerang agama.

Setelah era Khrushchev jatuh, hubungan antara pemerintah dan umat Islam memasuki fase baru, dimana serangan terhadap agama Islam sedikit mengendor, dan propaganda memusuhi Islam mengambil karakter baru yang lebih beraroma ilmiah, pemerintah meyakinkan bahwa serangan terhadap agama dan ulama adalah tidak begitu membuahkan hasil, karena itu, serangan melawan Islam dilahirkan ke dalam tataran ideologis sesuai dengan ideologi Marxisme – Leninisme yang pada dasarnya anti agama, karena itu, Partai Komunis tidak bisa terus bersikap netral terhadap Islam.

Perbedaan antara era Leninis, Stalinis dan era lain berikutnya hanyalah dalam metode yang digunakan oleh pemerintah Rusia untuk mempercepat penghapusan agama dan menghancurkannya. Akan tetapi, meskipun berbagai upaya sudah dilakukan melalui propaganda media, tekanan dan teror, pemerintah Rusia tetap tidak puas dengan hasil yang dicapai dari berbagai upaya ini, dan mengumumkan kegagalan propaganda dan media diarahkan terhadap Islam. Bahkan, sebaliknya, serangan yang ditujukan terhadap Islam memunculkan fenomena lain. Sebagai contoh sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1978 di Republik Chechnya, Rusia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa hanya 20 % dari rakyat Chechnya saja yang terpengaruh propaganda media yang memusuhi Islam, sedangkan 80 % dari populasi mereka yang tersisa justru bersikap antipati terhadap propaganda anti agama, atau bersikap acuh tak acuh.


Sumber :
http://kota-islam.blogspot.com/2014/06/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-rusia.html

Sejarah Peradaban Islam di Prancis

   A. Awal Masuk Islam ke Perancis
Sejak abad 8 M, Islam masuk ke kota-kota selatan Perancis melalui Spanyol ke Toulouse, Narbonne dan sekitarnya hingga Bourgogne di tengah-tengah Perancis.  Namun baru pada abad 12 hingga abad 15 orang-orang Islam mulai menempati kota-kota selatan Perancis yang terdapat di provinsi Roussillon, Languedoc, Provence, Pay Basque Perancis termasuk Bearn. Hal ini berlangsung secara bertahap dan puncaknya adalah ketika terjadi pengusiran besar-besaran terhadap muslim Spanyol pada peristiwa Reconquista di bawah raja Ferdinand II dan istrinya ratu Isabelle pada  tahun 1492 M. Namun baru pada pada abad ke-20, Islam berkembang dengan sangat pesat di daratan Eropa. Perlahan-lahan, masyarakat di benua biru yang mayoritas beragama Kristen dan Katholik ini mulai menerima kehadiran Islam. Tak heran bila kemudian Islam menjadi salah satu agama yang mendapat perhatian serius dari masyarakat Eropa.
Di Perancis, Islam berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20 M. Sebelum islam masuk ke Perancis yang berada di benua Eropa yang terkenal sebagai benua tempat Ummat pemeluk agama Kristen terbesar di dunia, Perancis masih di bawah pimpinan raja-raja yang beragama kristen, dan pada saat itu pemerintah melarang ummat islam masuk ke Prancis, hal ini disebabkan kehawatiran pemerintah Perancis terhadap ummat islam akan melakukan pemberontakan dan merebut salah satu wilayah Eropa terbesar.
Akan tetapi pada masa kejayaan Bani Abbasiyah, pinggiran-pingiran benua Eropa yang telah di rebut oleh kerajaan Yunani dari masa pemerintahan bani Umayyah di pukul mundur, hingga ekpansi tentara islam pada saat itu kembali menguasai bagian pinggiran Eropa. Kemudian, gerakan pasukan muslim pada saat itu yang berada di daratan Turki mampu merebut kawasan Spanyol dan Perancis, dan disnilah awal mula masa keemasan umat islam di kawasan eropa. Umat islam yang berada di kawasan Eropa pada saat itu tidak khawatir lagi atas keberadaan temmpat tinggalnya di Eropa.
Dan pada masa keemasan ini para ilmuan-ilmuan arab bebas masuk ke bagian Spanyol, Cordova, Sisilia, Prancis dan negara-negara di bagian Eropa barat. Dan pada saat itu pengetahuan ummat islam di Eropa khusunya di wilayah Prancis sangat berkembang pesat, baik itu di bidang politik, ekonomi, filsafat, kedokteran dan lain sebagainya.
Adapun ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu diwilayah Eropa terutama di daerah Perancis pada saat itu adalah sebagai berikut:

1. Bidang politik
Terjadi balance of power karena di bagian barat terjadi permusuhan antara bani Umayyah II di Andalusia dengan kekaisaran karoling di Perancis, sedangkan di bagian timur terjadi perseteruan antara bani Abbasyah dengan kekaisaran Byzantium timur di semenanjung Balkan. Bani Abbasyah juga bermusuhan dengan Bani Umayyah II dalam perebutan kekuasaan pada tahun 750 M. Kekaisaran Karoling bermusuhan dengan kekaisaran Byzanium timur dalam memperebutkan Italia. Oleh karena itu terjadilah persekutuan antara Bani Abbasyah dengan kekaisaran Karoling, sddangkan bani Umayyah II bersekutu dengan Byzantium Timur. Persekutuan baru berakhir setelah terjadi perang salib (1096-1291)

2. Bidang Sosial Ekonomi
Islam telah menguasai Andalusia pada tahun 711 M dan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Keadaan ini mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan Eropa. Islam berarti telah menguasai daerah timur tengah yang ketika itu menjadi jalur dagan dari Asia ke Eropa. Saat itu perdagangan ditentukan oleh negara- negara Islam. Hal ini menyebabkan mereka menemukan Asia dan Amerika.

3. Bidang KebudayaanMelalui bangsa Arab (Islam), Eropa dapat memahami ilmu pengetahuan kuno seperti dari Yunani dan Babilonia. Tokoh tokoh yang mempengaruhi ilmu pengetahuan dan kebudayaan saat itu antara lain sebagai berikut.

a. Al Farabi (780-863M)
Al Farabi mendapat gelar guru kedua (Aristoteles digelari guru pertama). Al Farabi mengarang buku, mengumpulkan dan menerjemahkan buku- buku karya aristoteles

b. Ibnu Rusyd (1120-1198)
Ibnu Rusyd memiliki peran yang sangat besar sekali pengaruhnya di Eropa sehingga menimbulkan gerakan Averoisme (di Eropa Ibnu Rusyd dipanggil Averoes) yang menuntut kebebasan berfikir. Berawal dari Averoisme inilah lahir roformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M di Eropa. Buku-buku karangan Ibnu Rusyd kini hanya ada salinannya dalam bahasa latin dan banyak dijumpai di perpustakaan- perpustakaan Eropa dan Amerika. Karya beliau dikenal dengan Bidayatul Mujtahid dan Tahafutut Tahaful.

c. Ibnu Sina (980-1060 M)
Di Eropa, Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicena. Beliau adalah seorang dokter di kota Hamazan Persia, penulis buku-buku kedokteran dan peneliti berbagai penyakit. Beliau juga seorang filsuf yang terkenal dengan idenya mengenai paham serba wujud atau wahdatul wujud. Ibnu Sina juga merupakan ahli fisika dan ilmu jiwa. Karyanya yang terkenal dan penting dalam dunia kedokteran yaitu Al Qanun fi At Tibb yang menjadi suatu rujukan ilmu kedokteran.

4. Bidang Pendidikan
Banyak pemuda Eropa yang belajar di universitas-unniversitas Islam di Spanyol seprti Cordoba, Sevilla, Malaca, Granada dan Salamanca. Selama belajar di universitas-universitas tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya ilmuwan muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka mendirikan seklah dan universitas yang sama. Universitas yang pertama kali berada di Eropa ialah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1213 M dan pada akhir zaman pertengahan di Eropa baru berdiri 18 universitas. Pada universitas tersebut diajarkan ilmu-ilmu yang mereka peroleh dari universitas Islam seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti dan ilmu filsafat.
Dan di jelaskan mulai dari masa keemasan Islam di Eropa hinga tahun 912-961 M. ibukota Cordova di kenla sebagai pusat ilmiah dan kebudayaan yang gemilang, menandingi kedudukan Baghdad dan kawasan islam bagian Timur, dan berbagai belahan bumi pun Terutama masyarakat Perancis berbondong-bondong menuntut ilmu di ibukota cordova.

B. Awal Kemunduran Islam di Prancis
Akan tetapi, pada saat keemasan ummat islam di Eropa inilah Umat Kristen Spanyol dan Perancis yang membuat suatu kelompok sadar dan melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan islam pada saat itu. Terjadilah puncak pemberontakan dan kekacauan yang sangat besar di Spanyol dan Perancis.
Ummat islam pada saat itu di pimpin oleh As-Samh dalam melawan pemberontakan yang sedang bergolak pada saat itu, dan akhirnya As-Samh tewas dalam pertempuran Toulouse, dan kemudian Abdurrahman dipilih untuk menggantikan kedudukannya oleh tentara disana, tetapi jabatan itu tidak lama, Abdurrahman hanya menjabat selama beberapa bulan saja. Kemudian Ummat islam pada saat itu di pimpin oleh Anbasah yang menggantikan kedudukan Abdurrahman sebagai gubernur Spanyol pada tahun 721 M. sampai batas tertentu ia mampu memulihkan kedaan disana.  Hingga akhirnya Anbasah melintasi Pegunungan Pyrenee dan bertujuan untuk merebut kembali Perancis dari ummat kriten.
Dan Anbasah pun mampu merebut kembali Perancis dan pemerintahan di ambil alih oleh pemerintah Islam. Tak berapa lama dari keberhasilan ini, sisa-sisa umat Kristen yang berada di Perancis kembali melakukan aksi pemberontakan, dan pada saat itu tepatnya tahun 725 M Anbasah terbunuh, dan kedudukannya di ambil alih kembali oleh Abdurrahman pada tahun 731 M. Akan tetapi beralihnya kekuasaan ke angan Abdurrahman tidak meredam pemberontakan pada saat itu, pemberontakan tetap terjadi hingga salah satu gubernur islam Perancis yang berada di provinsi Pyrenee bersama Duke of Aquitaine yang berhianat melakukan pemberontakan dan meminta bantuan kepada raja Perancis, Charles Martel, agar membantunya.
Charles mengabulkan permohonannya, dan denagn suatu kekuatan yang besar menuju ke arah selatan Perancis, meskipun kalah dalam jumlah oleh orang-orang Keristen, pada saat itu umat islam bertempur dengan keberanian dan semangat yang bergejolak dan berkali-kali menembus benteng pasukan Kristen yang berlapis baja.
Pertempuran yang sengit itu berlangsung selama tiga hari. Pada hari ketiga Abdurrahman tertembus anak panah. Gugurnya jendral itu menyebabkan seluruh komando pasukan kacau, dan orang-orang Kristen pun langsung memanfaatkan kesempatan dan membuat kerusakan yang hebat pada tentara Islam saat itu.
Setelah kembalinya di rebut Perancis, pasukan Kristen bergerak maju ke bagian eropa lainnya hingga mereka melakukan ekspansi ke Turki dan berhasil merebut wilayah Turki dan dendam umat Kristen pun terbalas. Hal ini bertepatan pada saat terjadinya krisi politik di Baghdad yang mana pada saat itu dinasti-dinasti kecil yang dibwah pimpinan Daulah Abbasiyah memberontak dan juga disebabkan kekalahan umat Islam pada perang Salib yang bergejolak pada saat itu.
Dan hal ini di jelaskan oleh buku yang terbit pada 1786, pengarang Perancis Volney muncul dengan karangannya berjudul “Pandangan –pandangan tentang perang melawan Turki”. Dikatakanny, bahwa Turki melebarkan sayap kekuasaannya hampir 400 tahun, dan selama masa itu mereka telah memperbaiki pembukaan kota-kota dunia yang paling indah dan paling besar. Tetapi di waktu hampir 100 tahun terakhir, muncul suatu kerajaan yang tadinya tidak terkenal sama sekali, tetapi dengan begitu cepat mengkagumkan ia tampil dan mempunyai hari depan, yaitu kerajaan Russia. Baik dalam alam benda maupun dalam alam kebudayaan, kalau barangnya sudah tumbuh ia akan bergerak terus menerus sesuai dengan kebesaran tubuhnya.
Dan keadaan di turki semakin di perburuk oleh bergabungnya antara Inggris dan Perancis dalam perjanjian Sevres yang mengutus orang-orang Constantinopel untuk menghancurkan Turki dan kemudian perjanjian ini mengahsilkan kesepakatan wilayah Turki di bagi menjadi dua wilayah kekuasaan sebagian oleh inggris dan sebagian oleh Perancis.

Akan tetapi Inggris mengubah haluan, berpihakl kepada pemerintahan Prusia (Jerman)
dan membuat perjanjian pada tanggal 13 Agustus 1788 akan kerjasamanya tentang negara-negara timur. Semenjak itu politik Inggris membela tetap adnya turki, untuk menghambat pertumbuhan kemajuan Russia.Dengan demikian Turki dapat menarik nafas lega, karena dapat menjalankan pemerintahan meskipun masih dalam jajahan inggris.

C.Masa Setelah Perang Dunia I dan II
Tahap berikutnya adalah setelah pecahnya Perang Dunia I dan II. Sebagian Muslim yang masuk ke Perancis adalah para korban perang. ( Palestina, Turki, Tunisia dll ). Sementara sebagian besar lagi datang dari Aljazair sekitar tahun 1960-an karena Perancis membutuhkan sejumlah besar tenaga dalam rangka membangun negaranya yang hancur karena perang. Perlu dicatat, Aljazair adalah satu dari negara bekas jajahan Perancis.
Negara-negara Islam seperti Irak dan Afganistan menjadi sasaran serangan membabi buta. Dan seperti biasa rakyat yang menjadi korban dan yang paling menderita. Mereka   ini kemudian berimigrasi ke Perancis untuk mencari perlindungan. Ini masih ditambah lagi dengan orang-orang Iran yang lari dari negaranya ketika Revolusi Iran tahun 1979, korban perang negara-negara bekas jajahan Uni Sovyet seperti Chenya serta perang saudara di Yugoslavia. Dengan demikian masuklah  Islam ke Eropa termasuk Perancis.
Selain itu hal yang memengaruhi perkembangan Islam di Perancis. Salah satunya adalah Perang Teluk 1991 yang menyebabkan munculnya krisis identitas di kalangan anak muda Muslim di Perancis. Kondisi ini mendorong mereka lebih rajin datang ke masjid. Gerakan Intifada di Palestina juga mendorong makin banyaknya Muslim Perancis yang beribadah ke masjid.

D. Islam Setelah Perang Dunia I dan II
Dan inilah yang menjadi awal penyebaran islam di perancis di Era Teknologi. Islam berkembang melalui pengungsi meskipun awalnya pergerakan aktivitas orang-orang islam di Perancis sangat terkekang, mulai dari dilarangnya memakai jilbab seorang karyawan wanita muslim, dilarangnya berkumandang azan, dilarang membangun bangunan mesjid setinggi 30 m.Menurut survei yang dilakukan kelompok Muslim Perancis, sampai tahun 2003, jumlah masjid di seantero Perancis mencapai 1.554 buah. Mulai dari yang berupa ruangan sewaan di bawah tanah sampai gedung yang dimiliki oleh warga Muslim dan dibangun di tempat-tempat umum.
Pada tahun 1970-an, imigran Muslim kembali mendatangi negara pencetus trias politica itu. Kali ini, para pelajar Muslim yang datang ke Perancis untuk menuntut ilmu. Kedatangan para pelajar ini menjadi faktor penting yang mengambil peran besar dan penting dalam mendorong penyebaran Islam dan berkehidupan Islam di jantung negeri Napoleon Bonaparte ini.
Karena justru sejak tahun 2004 itu  makin banyak saja perempuan berjilbab di kota-kota Perancis. Menurut laporan banyak perempuan Perancis tertarik kepada ajaran Islam karena Islam ternyata sangat melindungi hak-hak perempuan. Jilbab yang dituduh merupakan cermin ketidak-bebasan perempuan sekaligus lambang superioritas laki-laki ternyata malah berfungsi melindungi perempuan.
Bahkan yang sebelumnya tidak pernah terdapat penjualan daging halal, setelah tujuh tahun dari pengungsian tersebut, banyak berdiri toko-toko yang menydiakan daging halal, dan pelayanan secara Islami. Dan di tambah kabar seorang Mentri Keimigrasian Eric Besson, yang melempar isu debat nasional. Sejumlah tabloid melaporkan bahwa saat ini, duda berusia sekitar 45 tahun  ini sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang gadis Tunisia Muslim cucu mantan presiden Tunisia dan akan segera masuk agama Islam.
Dan perkembangan islam semakin berjalan mulus dan hal ini dengan di Tahun 1985, diselenggarakan konferensi besar Islam yang dibiayai Rabithah Alam Islami (Organisasi Islam Dunia). Turut serta dalam konferensi itu 141 negara Islam dengan keputusan mendirikan Federasi Muslim Perancis.
Seiring dengan berkembangannya agama Islam di negara Perancis, jumlah sarana ibadah dan kegiatan keislaman pun semakin meningkat.
Menurut survei yang dilakukan kelompok Muslim Perancis, sampai tahun 2003, jumlah masjid di seantero Perancis mencapai 1.554 buah. Mulai dari yang berupa ruangan sewaan di bawah tanah sampai gedung yang dimiliki oleh warga Muslim dan dibangun di tempat-tempat umum.
Perkembangan Islam dan masjid di Perancis juga ditulis oleh seorang wartawan Perancis yang juga pakar tentang Islam, Xavier Ternisien. Dalam buku terbarunya, Ternisien menulis, di kawasan Saint Denis, sebelah utara Perancis, terdapat kurang lebih 97 masjid, sementara di selatan Perancis sebanyak 73 masjid.
Tampaknya, pada tahun-tahun mendatang, jumlah masjid akan makin bertambah di Perancis. Sejumlah masjid yang ada sekarang terkadang tidak bisa menampung semua jamaah. Masjid di kawasan Belle Ville dan Barbes, misalnya, sebagian jamaah terpaksa harus shalat sampai ke pinggiran jalan.
Awalnya, masjid-masjid yang ada di Perancis didirikan oleh orang-orang Muslim asal Pakistan yang bekerja di pabrik-pabrik di Paris, Perancis. Mereka mengubah ruangan kecil tempat makan siang atau berganti pakaian menjadi ruangan untuk shalat. Terkadang, mereka menggunakan ruangan di asramanya sebagai sarana ibadah. Sehingga, hal itu terus berkembang dan menyebar.
Tak hanya masjid yang berkembang pesat pada saat ini, lembaga pendidikan Islam di negeri mode ini pun turut berkembang. Sejumlah sekolah Islam berdiri di Perancis. Sampai kini, sedikitnya ada empat sekolah Muslim swasta.
Awalnya, sebuah sekolah didirikan di Vitrerie, pinggiran selatan Paris. Kurikulumnya disesuaikan dengan kurikulum pendidikan nasional Perancis, namun ada tambahan pelajaran khusus muatan lokal tentang keislaman, seperti bahasa Arab dan agama Islam.
Education et Savior adalah sekolah kedua yang dibuka di Paris setelah sekolah Reussite di pinggiran Aubervilliers, utara Paris, dan yang keempat di Perancis. Dua sekolah swasta Islam lainnya adalah Ibn Rushd di Kota Lille, utara Perancis, dan Al-Kindi di Kota Lyon.
Academy of Lyon, badan pendidikan negara yang tertinggi di kota itu, menolak izin operasional sekolah itu dan menutup sekolah dengan alasan pihak sekolah tidak memenuhi standar kebersihan dan keselamatan. Namun, Pengadilan Administratif di Lyon membatalkan penutupan itu pada Februari tahun lalu. Ini berarti sekolah Al-Kindi bisa membuka ajaran baru pada Maret 2007.
Menurut para pemimpin Muslim Perancis, insiden di Al-Kindi justru mendorong masyarakat Muslim untuk membuka sekolah serupa. ”Kontroversi Al-Kindi mendobrak ketakutan di minoritas Muslim untuk memiliki sekolah lebih banyak,” ujar Lhaj Thami Breze, ketua Organisasi Persatuan Islam di Perancis, UOIF. Dan hingga saat ini Islam di Perancis berkembang pesat di setiap kalangan penduduk negara Napoleon Bona Parte.
Bahkan kini Islam di negara ini telah menyebar di setiap komunitas masyarakatnya, mulai dari karyawan kantor, wiraswasta, bahkan olahragawan.

Sumber :
http://point-ilmu.blogspot.com/

Sejarah Peradaban Islam di Inggris


A.    Latar Belakang Masuknya Islam Di Inggris
Sejarah pertumbuhan komunitas muslim di Inggris hampir serupa apa yang dialami di Prancis, yaitu melalui proses imigrasi. Imigrasi muslim ke Inggris mulai berlangsung pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 melalui pendaratan para pelaut yang direkrut oleh East India Company (Perusahaan India Timur) dari Yaman, dan  Gujarrat. Setelah dibukanya terusan Suez pada tahun 1869 dan sejalan dengan meluasnya ekspansi kolonial Inggris, para pendatang muslim itu semakin lama semakin banyak dan mulai membentuk pemukiman baru di kota-kota pelabuhan seperti Cardiff Shout Shields (Dekat Newcastle), London, dan Liverpool. Komunitas muslim di negara itu memiliki akar budaya yang berbeda satu sama lain. M. Ali Kettani, dalam bukunya "Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini" mengatakan imigran pertama ke Inggris adalah orang Yaman dari Aden. Mereka menghimpun diri di Cardif dan di situ membangun salah satu masjid pertama di negeri itu pada tahun 1870. Sebelum pergantian abad, datang kelompok muslim lain dari India dan menetap di dekat London, di sana mereka membangun masjid Shah Jehan di Woking. Sekitar abad ke-19, sejumlah pengusaha muslim juga  telah berniaga ke kerajaan Inggris. Salah satunya adalah perusahaan terkenal "Mohamed’s Baths” yang didirikan oleh Sake Deen Muhamed (1750-1851).
Di samping itu, pada tahun 1930-an, gagasan rencana pembangunan masjid pusat di London juga muncul sebagai respons atas pembangunan masjid di Paris pada tahun 1926 yangjuga mendapat perhatian dara Raja Goerge IV pada tahun 1944. Namun, berbagai kendala seperti terjadinya Perang Dunia II dan masalah yang dihadapi pemerintah lnggris akibat kemerdekaan India dan Pakistan, menyebabkan pembangunan masjid tertunda hingga tahun 1970-an. Baru pada tahun 1977, Masjid Pusat London dengan Islamic Cultural Center (Pusat Kebudayaan Islam)-nya akhirnya diresmikan  dan dewasa ini menjadi terkenal. Pertambahan jumlah masjid dalam perkembangan-perkembangan selanjutnya di Inggris sesungguhnya mencerminkan peningkatan jumlah komunitas muslim di Inggris. Peningkatan itu berhubungan erat dengan tahapan sejarah imigrasi kaum muslim secara besar-besaran dari berbagai negeri muslim ke Inggris tahun 1950-an, dan sebagai akibat penyatuan kembali keluarga imigran yang diterapkan awal tahun 1960-an, terutama dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Selain itu, sehubungan dengan terbitnya "Commonwealth Immigration Act" (Undang-undang Imigrasi Persemakmuran), tahun 1962, yang semakin memberikan kemudahan untuk menjadi warga negara Inggris bagi warga negara bekas jajahan Inggris, juga turut mendorong laju migrasi ini.
Pola distribusi pemukiman muslim tidak merata, baik secara geografis maupun etnis. Kendati demikian, ada konsentrasi tertentu, misalnya penduduk muslim India di West Midlands, Arab dan Iran di Cardif Liverpool, dan Birmingham. Turki-Cyiprus di wilayah Timur London, serta Pakistan dan Bangladesh di Bradford. Begitu signifikannya komunitas muslim Pakistan dan Bangladesh itu di Bradford, sampai orang menyebutnya kota ini sebagai Islamabad-nya Inggris. Dari perspektif mazhab, muslim di Inggris mayoritas bermazhab Hanafi, sisanya Syaf i,  Ja'fari atau Ismaili.

B.Perkembangan Islam di Inggris dalam segi sosial Budaya
Di Inggris agama Islam berkembang dengan pesat. Hal ini didukung dengan kepeloporannya dalam pemindahan Universitas Islam Toledo di Spanyol ke Inggris. Sejak itu Inggris mernpunyai Universitas Cambridge dan Oxford. satu tokoh yang amat berjasa dan aktif dalam penyebaran ilmu pengetahuan agama Islam, Ia mengganti namanya menjadi Pekus Al Ponsi, dan beliau menjadi dokter istana Raja Henry I. Pengembangan Islam dilakukan tiap hari libur, seperti hari Sabtu dan Ahad, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. hasil penelitian bahwa, di Inggris saat ini terdapat 14.200 mualaf berkulit putih, yang datang dari kalangan bangsawan, pejabat sampai celeberitis. Mereka berbondong-bondong bersyahadat (memeluk Islam) oleh karena merasa gersangnya nilai-nilai kehidupan di Barat. Perkembangan Islam di negeri ini sangat pesat dirasakan sebelum terjadinya Tragedi 11 September. Dari segi kuantitas bisa dilihat dari perkembangan yang disebut tadi. Demikian juga dari segi kualitas, kaum Muslim di sana tidak banyak mendapatkan kesulitan yang berarti tatkala berusaha mengimplementasikan keberagamaannya. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah Inggris yang secara tegas membebaskan seluruh warganya untuk memeluk dan menjalankan ajaran-ajaran agamanya. Artinya, setiap warga negara Inggris tidak dibatasi dan dilarang untuk memeluk suatu agama apa pun.
Berkembangnya Islam di kampus-kampus di Inggris, Sehingga banyak kegiatan yang dilakukan yang sifatnya dalam bentuk mimbar bebas, bahkan mereka juga aktif mengikuti kegiatan nasional. kegiatan sosial budaya Islam di kampus-kampus juga ada hubungannya dengan kompetisi diantara mahasiswa untuk menempati posisi penting di student union atau senat mahasiswa. Kemungkinan lain lagi, banyak mahasiswa dari negeri muslim, Malaysia, Libya, Iran, Turki, Saudi, Palestina, dan negara lainnya yang kuliah di Inggris. Disamping organisasi-organisasi keagamaan muslim dan organisasi Islam yang tumbuh di kampus, juga ada beberapa organisasi-organisasi Islam lain yang banyak berperan mensosialisasikan Islam melalui gerakan dakwah dan kampanye budaya yang menarik bagi rakyat Inggris tentang Islam, sehingga banyak penduduk pribumi Ingggris yang tertarik mameluk Islam, di antaranya yaitu:
1. The Islamic council of Europe (Majlis Islam Eropa) berfungsi sebagai pengawas     Kebudayaan Eropa.
2. The Union of Moslem Organization ( Persatuan Organisasi Islam Inggris)
3. The Asociation of British Moslems (Perhimpunan Musli
m Inggris)
4. Islamic Fondation dan Moslem Institute.
Perkembangan Islam di Inggris  cukup mendapat apresiasi dalam hal  kehidupan sosial budaya di Inggris yang  mayoritas non muslim tidak terlepas oleh karakteristik ajaran Islam yang sangat toleran, inklusif, dan sangat menghargai hak-hak kemanusiaan. Maka wajar jika pangeran charles, putra mahkota Inggris  mengungkapkan apresiasinya bahwa prinsip-prinsip yang dianut dalam Islam akan mampu menyelamatkan dunia.

C.    Posisi umat Islam Inggris dalam Konteks Kebijakan politik Global
Pasca Tragedi 11 September 2001, yang ternyata memberikan dampak yang sangat hebat bagi Muslim di Inggris. Bukan lagi seputar isu, namun lebih dari itu, tindakan rasial yang selama ini hanya sedikit jumlahnya menimpa kaum muslimin di sana, setelah tragedi tersebut dari sisi kuantitas semakin sering dialami oleh kaum muslim di berbagai sektor kehidupan. Sikap rasis dilihat di tempat-tempat pusat kebudayaan lslam. Sering terjadi, sebagian dari kaum muslim yang bepergian mengalami tindakan serupa, di bandar udara atau stasiun kereta api internasional. Untuk meredam kemungkinan dampak negatif yang dialami komunitas muslim, sehari setelah serangan itu, Perdana Menteri Tony Blair menyatakan, "Tindakan yang tercela (pengeboman WTC) itu sangat kontras dengan nilai-nilai Islam.
kebijakan yang diambil oleh PM Tony Blair terkait dengan kebijakan dalam dan luar negerinya bertentangan satu dengan lainnya. Namun, jika diamati lebih lanjut, ternyata apa yang diambil justru saling menguatkan. Memang, jika diamati dari kebijakan luar negerinya, Inggris cenderung memusuhi Islam. Kondisi ini tampak pada bagaimana keseriusan Inggris bersama AS menggempur Afganistan dan Irak yang menyiratkan secara tegas kebenciannya pada Islam. Belum lagi jika dilihat dari akar sejarah, Inggrislah yang menghancurkan Daulah' Khilafah Islamiyah di Istambul Turki.
Dari sini dapat dipahami mengapa dalam kerangka politik luar negerinya, lnggris begitubenci terhadap negeri-negeri Islam. Namun, kebijakan sebaliknya, yaitu melindungi warga muslim, diambil dalam kebijakan politik dalam negeri Inggris. Bukan hanya warga muslim yang sudah sejak lama menjadi warga negaranya, namun tokoh-tokoh muslim pelarian dari berbagai negeri muslim pun dapat dengan mudah mendapatkan suaka untuk selanjutnya melanjutkan aktivitasnya seperti yang dilakukan di negeri asalnya. Artinya, seluruh kaum Muslim, selama dia masih menjadi warga negara Inggris, akan senantiasa dibela dan dilindungi, baik tatkala dia berada di dalam wilayah Inggris maupun bukan.
institusi Inggris mengatur dan melindungi kebebasan setiap individu untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapatnya. Pemerintah Inggris ingin tetap mencitrakan diri sebagai negara demokrasi yang senantiasa menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi dan HAM. Oleh karena itu, setiap warga negara dijamin kebebasannya mengeluarkan pendapatnya walau berseberangan dengan pemerintah atau bahkan cenderung menghina. Sebagai contoh apa yang terjadi dalam demonstrasi menentang kebijakan Blair menggempur Irak. Para demonstran menggambarkan Blair sebagai kaki tangan Bush dengan replikasi Bush sebagai tuan sedangkan Blair sebagai anak buah, Penghinaan ini tidak dituntut sama sekali oleh pemerintah. Kondisi ini menunjukkan betapa kebebasan mengeluarkan pendapat sangat dijunjung tinggi.[3]



D.    Tantangan dan Peluang dalam Mengembagkan Islam di Inggris
Sebagaimana dikemukakan, bahwa pertumbuhan muslim di Inggris terus berlangsung disebabkan oleh datangnya kaum imigran dan konversi agama di kalangan penduduk pribumi yang banyak memeluk Islam dalam setiap tahunnya. Namun, perkembangan Islam yang meningkat cukup drastis itu koran dan majalah Inggris mulai menggerakkan isu menentang kaum muslimin. Majalah Time out terbitan London dalam nomor terbarunya mencetak covernya dengan bahasa Arab dengan nada tanya Apakah masa depan London di tangan lslam? Isinya sendiri menunjukkan ketidaksetujuannya dengan pertambahan jumlah penduduk muslim di negara ini. Ia meminta kepada non muslim agar melakukan aktivitas yang dapat menghambat lajunya pertambahan penduduk muslim ini. Pasca tragedi WTC, terjadi pula perubahan sikap pemerintah terhadap komunitas Muslim. Pada tanggal 17 Februari 2010, surat kabar The Guardian melaporkan bahwa pemerintah Inggris sedang mempertimbangkan rencana yang akan mengakibatkan ribuan lagi kaum Muslim bisa dianggap sebagai kaum ekstrimis.
Tantangan yang sifatnya dari dalam Islam, yang kadang menghambat sehatnya gerakan dakwah Islam di Inggris adalah kaum imigran muslim masih sangat menonjolkan perbedaan kebiasaan dan sikap hidup yang terbawa dari negeri asalnya. Di samping itu juga, belum menyatunya potensi umat Islam dari trend pengkotak-kotakan dalam aliran dan paham keagamaan yang ada di Inggris. Namun, dibalik tantangan tersebut di atas, peluang ber-Islam dan mengembagkan Islam di Inggris pada perinsipnya terjaga. Paling tidak, jika dianalisis lebih jauh ada lima hak fundamental yang dijamin, yaitu, hak untuk menjalankan ajaran islam, hak untuk belajar, hak untuk mendirikan organisasi,  dan hak untuk naik banding hukum.

E.     Bukti Kejayaan Islam Di Inggris
a.Pengenalan Dunia islam di London (Inggris)
Proses kebangkitan islam tidak bisa terelakkan, berbagai kejutan kejutan sudah dibuat. Misalnya pernah diselenggarakan “world of islam festival” di London (inggris) dari bulan april hingga akhir juni 1976. Panitia itu berhasil  mengumpulkan barang-barang kebudayaan islam dan kira-kira 30 negeri islam yang berasal dari 250 museum, perpustakan dan koleksi pribadi. Di tampilkan pula kekayaan literatur dan arsitektur dunia islam dari abad ke abad.
Penggagas dari pengenalan budaya-budaya islam ini adalah “world of islam festival trust”, suatu  badan pecinta kebudayaan, diketahui seorang diplomat dan pakar bahasa arab, sir Harold beeley. dari delapan anggota, dua orang muslim: yahaya at-tajir, duta besar uni emirat arab London dan sheikh shukri.
Latar belakang diselenggarakan pengenalan islam di inggris  terbagi ke dalam beberapa faktor diantaranya:
1.      Dari 25 juta umat islam yang bertebaran di eropa barat dan timur, satu juta berada di inggris.
2.      Sebagian besar Islamic center dan organisasi-organisasi islam yang bertebaran di eropa barat berpusat di kota London (inggris) yang bernama “Islamic council of Europe”
3.      Yang pertama kali memperkenalkan Al-Qur’an ke eropa adalah seorang sarjana inggris, Robert ketton, dengan menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa latin pada abad 12.
4.      Kamus arab-inggris pertama disusun oleh seorang sarjana inggris, E.W. Lans dan kamus turki-inggris oleh sir james redhouse.


b. Jumlah Penduduk dan Masjid di Inggris
            Pada tahun 1951, penduduk muslim di negara itu diperkirakan baru mencapai 23.000 jiwa. Sepuluh tahun belakangan, populasi penduduk muslim di Inggris menjadi  82.000, dan pada tahun 1971 sudah mencapai 369.000 jiwa. Dan saat ini,  jumlah penduduk muslim di Inggris sekitar 2 juta jiwa. Pendapat lain, dikemukakan oleh M. Ali Kettani bahwa pada tahun 1971, ada sekitar setengah juta muslirn di Inggris, atau 1,8 % dari jumlah penduduk. Angka ini pada tahun 1982 naik menjadi 1.250.000 muslim (2,2 % dari penduduk). Pemukiman kaum muslim di Inggris umumnya terkonsentrasi di kota besar. Di London, penduduk muslim merupakan komunitas kosmopolitan yang terdiri dari macam-macam latar belakang kebudayaan. Hampir separuh dari jumlah keseluruhan kaum muslim di Inggris tinggal di London dan wilayah sekitarnya. Sekitar dua pertiga sisanya bermukim di West Midlands, Yorkshire, Glasgow, dan wilayah-wilayah di sekitar Manchester.
Di Inggris pada akhir 1960, hanya tercatat sembilan masjid sebagai tempat ibadah. Dan hanya bertambah empat masjid lagi selama lima tahun berikutnya, tetapi pada 1966, terdapat loncatan sehingga jumlah masjid terus bertamabah delapan buah tiap tahunnya. Secara kuantitatif, jumlah masjid di wilayah Inggris diidentifikasi oleh M. Ali Kettani, bahwa ada sekitar 100 masjid di daerah London Raya, 50 di Lancashire, 40 di Yorkshire, dan 30 di Midlands, ada 3 masjid di Skotlandia, dan 2 di Wales, serta 1 buah di Belfast. Sumber lain, mengemukakan bahwa berdasarkan catatan dr Registeral-General, sebuah departemen pemerintahan di England dan Wales mencatat jumlah masjid bertambah di Inggris dari tahun 1963 hanya berjumlah 13 buah, menjadi 49 pada tahun 1970, 99 pada-tahun 1975, 193 pada tahun 1980, 314 pada tahun 1985, dan 452 pada tahun 1990. Tentunya, saat ini terus mengalami peningkatan jumlah seiring semakin berkembangnya Islam di Inggris pada saat ini. 



c. Organisasi, Kelompok dan Aliran
            Di Inggris, Alawiyah yang menjadi organisasinya orang-orang Yaman. Sementara orang-orang muslim yang berasal dari asia selatan banyak bergabung dengan aliran tarekat Naqshabandiyah dan Qadariah. Selain organisasi-organisasi tersebut, ada lagi gerakan lain yaitu Doebandi  dan Barelwi. Kedua gerakan ini masih beraliran sufi, dan berkaitan erat dengan pusatnya di asia selatan. Dalam konteks islam yang “mendunia (internasional)”, terdapat organisasi jamaat al-islam, yaitu organisasi yang didirikan dan dipimpin oleh Al-A’la  Al-Maududi sampai meniggalnya pada 1980. Organisasi ini menerbitkan The Muslim Educational Tust yang didirikan denagn tujuan untuk mendorong pengajaran islam bagi anak-anak muslim di sekolah-sekolah negara, kemudian UK Islamic Mission yang beroperasi dalam pengajaran Al-Qur’an bagi anak-anak muslim.
            Pada tahap selanjutnya, terdapat The Muslim Brotherhood yang menjadi tempat berkumpulnya para pendiri utama lahirnya The Federation of Student Islamic Societis (FOSIS) yang menjadi kelompok dari organisasi-organisasi kesejahteraan mahasiswa yang berbasis di London. Akhirnya pada 1970, didirikan organisasi pelindung  yang di sebut The Union of Muslim Organization. Namun, Muslim inggris terlalu beragam untuk di persatukan sehingga persatuan ini hanya berhasil menyatukan dalam menangani isu-isu praktis yang terdapat di permukaan. 

d. Perusahaan Asuransi  Islam  Pertama di Inggris

Di tengah penerimaan putra-putri minoritas muslim di negara-negara Barat, di bukalah perusahaan asuransi Islam pertama di Inggris pada Bulan April lalu. Perusahaan yang kegiatannya sesuai dengan syariat Islam.
Langkah ini diumukan setelah Kementerian Keuangan Inggris bertekad untuk membuka kegiatan keuangan yang berbasiskan pada system Islam, dengan target bertumbuhnya investasi dan kemajuan ekonomi di Inggris. Sekaligus keinginannya agar Inggris menjadi Negara Eropa pertama yang membuka aktifitas keuangan berupa asuransi yang di motori oleh perusahaan-perusahan keuangan besar, dengan praktek yang sesuai dengan Syariat Islam, yang mengharamkan riba (fawaid bankiyah).
Sebelumnya di Inggris telah didirikan bank-bank dan perusahaan-perusahaan yang dalam praktek aktivitasnya sesuai dengan syariat Islam, guna mewujudkan stabilitas ekonomi. Padahal di waktu yang bersamaan, Inggris masih belum menerima dipraktekkannya sebagian syariat Islam berkaitan dengan urusan (kehidupan) personal, seperti nikah dan cerai cara Islam.

Di Inggris sendiri terjadi perdebatan yang serius pada bulan Pebruari lalu, setelah Dr. Rown Williams, seorang Uskup Besar Gereja Inggris melontarkan gagasannya berupa dibolehkannya sebagian kegiatan yang mengakomodir syariat Islam di Inggris, terutama di aspek “ahwal syakhshiyah” urusan pribadi, seperti nikah dan cerai. Ia menegaskan bahwa urusan seperti ini merupakan usaha yang tidak bisa dihindarkan lagi.
Lontaran ini langusng mendapat pertentangan dari pemerintah Inggris, dengan menyatakan bahwa gagasan uskup itu hanya ide pribadi, bukan ide dari institusi Keuskupan Gereja.
Pada waktu yang sama, gagasan uskup di atas mendapat dukungan dan sambutan dari lembaga-lembaga dan pemimpin-pemimpin Islam.
Praktek ekonomi dan keuangan di Inggris yang sesuai dengan syariat Islam tidak hanya asuransi Islam. Jauh-jauh sebelumnya, telah didirikan bank-bank Islam dan bentuk-bentuk transaksi-transaksi keuangan berbasiskan syariat Islam.
Semenjak didirikan, praktek bidang keuangan Islam telah membuktikan keberhasilannya dalam menjalankan usahanya, dan berhasil menyedot nasabah dan investor di seluruh dunia.

e. Kisah Seorang  Wanita Muslim Berkebangsaan Inggris
            Sara (Christine) Murray, ia berumur 37 tahun dan besar di Ayr, Skotlandia.ayahnya seoarng insinyur. Ia punya empat saudara lelaki dan perempuan. Ibunya dulu adalah seorang anggota gereja Skotlandia. Mereka menghadiri gereja dan sekolah minggu setiap minggu. Ia mempercayai kristen hingga ia remaja, lalu ia berhenti pergi ke gereja. Karena seperti kebanyakan remaja, ia lebih tertarik pada kehidupan sosial. Ia melakukan apa saja yang umumnya dilakukan oleh remaja putri, tetapi ia belajar keras. Tahun 1974 ia di tawari empat Universitas, termasuk andrew’s university untuk belajar kimia. Ia pergi ke london dulu untuk liburan musim panas sambil bekerja menjadi pelayan rumah tangga. Di sana untuk pertama kalinya ia mengenal islam dan beberapa bulan kemudian ia pun memeluk agama islam serta mengganti namanya menjadi Sara.
            Dulu ia senang dengan kebebasannya . Akan tetapi, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Suatu hari ia menemukan sebuah brosur yang memuat ayat-ayat yang di terjemahkan dari Al-Qur’an. Ayat-ayat itu menerangkan bahwa orang-orang yang menjalani hidup shaleh akan mewarisi surga. Tiba-tiba ia berfikir: “TUHAN-NYA benar.” Ia memiliki keyakinan ini. Ia harus menjadi seorang muslim. Suatu hari ia pergi ke Hydre Park dan mendengar seorang muslim berbicara tetang islam. Ketika ia usai bicara, Sara memintanya untuk membantunya menjadi seorang muslim. Ia mandi terlebih dahulu agar tubuhnya bersih di hadapan TUHAN . Ia malu betapa tidak sopannya pakaian yang ia gunakan waktu itu.
            Ia mengerti bahwa ia telah mengambil suatu langkah besar. Dua hari kemudian ia menggunakan jilbab. Ia merasa peka ketika menggunakan pakaian itu, seolah-olah setiap orang menganggapnya tidak normal. Namun, ia menyukai perlindungan yang di berikan hijab kepadanya dan pesan yang di ingatnya bahwa ia tidak di peruntukkan bagi setiap lelaki.
            Pada suatu hari jum’at, beberapa temannya meminta untuk bertemu dengan seorang kawan mereka yang asalnya dari Mesir, Mohammed. Dan mereka berdua merasa sangat cocok. Hari senin berikutnya mereka menikah. Kedua orang tuanya tidak datang, karena mereka tidak menyetujui hubungan mereka. Akan tetapi, lama kelamaan orang tuanya menerima mereka dan membawa anak-anaknya  liburan setiap musim panas.Yang anehnya lagi, ketika seseorang mengecamnya atau agamanya, ibunya segera untuk membela Sara. mereka memiliki seorang putri, Sara dan Mohammed sangat menyayanginya. Ia memperoleh gelar sarjananya berkat dukungan dari suaminya. Sekarang mereka memiliki lima orang anak, dan mereka tinggal di Hampstead, kemudian suaminya bekerja sebagai ekonom.Ia seoarang wanita muslim, tetapi ia juga seorang berkebangsaan Inggris dan ia bangga akan kedua hal itu.

Sumber :
http://peradabanislaminggris.blogspot.com/2013/06/sejarah-peradaban-islam-di-negara.html